Batu Secret Zoo



Masih tentang cerita sekitar libur sekolah. Kali ini keponakanku mengajak saya ke Museum Satwa yang masih satu kompleks dengan Batu Secret Zoo. Sebenarnya saya enggan untuk ke Museum itu. Soalnya kakiku sudah terasa kaku-kaku setelah hampir seharian mengelilingi Kebun Binatang yang katanya modern itu.

Yah, demi keponakanku yang masih SMP, saya turuti saja ajakannya. Sebelum masuk, saya ajak keponakkanku mempelajari brosur yang sejak tadi saya pegang. Maksud saya, nanti kalau sudah masuk Museum, kami tidak perlu banyak bertanya kepada petugas. Plus, membangun kebiasaan mempersiapkan diri sebelum masuk ke wahana baru. Selain itu, dengan membaca brosur, bukankah akan mempermudahkan mengetahui lebih banyak hal?

Saya lihat, keponakanku mulai membaca brosur dengan serius. Dari balik kacamatanya, terpantul tulisan-tulisan di brosur seperti Sangkar Raksasa, Galeri Fosil, Diorama, Winter, Insectarium, Aquarium, Khasanah dan Ice live Show. Saya yakin dia nggak tahu apa arti semuanya itu.
Gedung Museum Satwa yang mirip dengan Gedung Putihnya Amerika, kami masuki setelah melewati penjagaan di pintu masuk untuk mengecek gelang karcis kami. “Wah, ada sangkar Raksasa!” teriak keponakan saya sambil berlari kecil dan telunjuk jarinya menunjuk ke sangkar itu. Memang saya lihat tingginya hingga ke langit-langit. Di dalam sangkar, ada tempat duduk dan sekelilingnya dihias aneka warna bunga plastik dan dipasang ranting-ranting berdaun.

“Om ini maksudnya apa ya?” ujar keponakanku. “Coba masuk ke sangkar itu. Manusia mirip binatang. Keseharian manusia adalah sangkar hidupnya. Meski katanya bebas, tetapi pada hakekatnya, manusia tidak bisa bebas dan terjerat dalam sangkarnya seperti binatang.” Jawab saya. Tapi keponakan saya malah nggak dong dengan omongan saya tadi, lalu mengajak pindah ke tempat lain. Ya sudah, saya cuma batin saja “Ojo dumeh. eling lan waspada” (Dalam hidup dan kehidupan ini, manusia Jangan mentang-mentang atau lupa diri, tetapi agar tetap selamat, ingat dan waspadalah tehadap segala yang dihadapi dan dijalani).

Dari sangkar, kami melihat fosil-fosil binatang jaman purbakala seperti fosil Gajah atau Mammoth yang hidup 4,8 juta tahun yang lalu. Tinggi binatang ini diperkirakan hingga 5 meter. Menurut catatan sejarah, terakhir Mammoth dilihat di Eropa dan Siberia sekitar 10.000 sebelum Masehi.
Keponakanku berjalan dan menyusuri rute yang sudah diatur di Museum itu. Rute itu melewati berbagai bagian seperti dalam brosur dan diorama atau patung-patung binatang yang sudah dikeringkan namun masih tampak utuh dan mirip sekali dengan aslinya. Binatang-binatang itu diletakkan di setiap booth yang lukisan backgroundnya sesuai dengan suasana alam kehidupan binatang yang bersangkutan. Misalnya, burung manguni (burung hantu), latar belakangnya dibuat seperti di tebing berbatuan dan di bawahnya ada laut.

“Om, ke sini. Itu kupu-kupu yang dipasang di balik kaca itu semua ada di Indonesia?”, tanyanya pada saya, saat saya juga lagi asyik melihat tekstur sayap kupu-kupu yang colorful. “Kayaknya kupu-kupu ini diambil dari luar negeri juga. Tuh ada tulisan Tanzania.” Saya tunjuk tulisan itu. Tak hanya kupu-kupu saja yang ada di insectarium. Ada juga berbagai jenis Kelabang, Belalang dan Kumbang Tanduk (dynastidae).

Jalan-jalan di Museum Satwa ini mengingatkan saya akan study trip atau perjalanan para siswa yang melakukan study banding dalam rangka mengimplementasikan apa yang dipelajari di kelas. Kegiatan seperti ini tentu ada maksudnya agar siswa tidak terjebak dalam gaya berpikir teoritis saja tetapi bersikap kritis dan komprehensif sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.

Betapa senangnya liburan sekolah kali ini, karena mendapat kesempatan untuk belajar banyak di tempat wisata yang dikunjungi. Barangkali ada baiknya, orang tua atau kerabat keluarga merencanakan, setiap kali liburan sekolah tiba, membuat kegiatan liburan yang sekaligus rekreatif dan edukatif seperti liburan kami.
Alternatif lain adalah datang secara rombongan pada saat liburan sekolah tanpa mengganggu rutinitas proses belajar mengajar di sekolah. Menurut saya lebih efektif belajar bersama-sama ketimbang datang sendiri untuk mempelajari hal yang sama. Interaksi dan transfer pengetahuan antar teman, alih-alih menguatkan dan meneguhkan semangat belajar kita sepanjang hidup kita.

Lho, di mana keponakan saya? Spontan saya mau panggil namanya dengan suara keras. Tapi karena saya masih di ruangan Museum, niat untuk itu saya batalkan. Merasa kehilangan keponakan saya, lalu saya cari di mana-mana. Kemudian saya berhenti di pintu sebuah ruangan meeting yang sedang diadakan acara. Banyak anak-anak dan orang tua sedang asyik sambil lesehan, mendengarkan pembawa acara yang tampak semangat berorasi tentang satwa. Gaya interaktifnya membuat peserta betah untuk mendengarkan ceramahnya soal ilmu pengetahuan satwa.
Di antara mereka, duduk dengan manisnya keponakan saya. Sejenak saya diamkan saja. Membiarkannya untuk menyerap apa yang sedang disampaikan oleh pembawa acara tentang Ilmu Pengetahuan Satwa hingga selesai. Dan akhirnya kami keluar dengan membawa segudang pengetahuan tentang Satwa Indonesia dan Dunia. Terima kasih liburan kali ini sungguh terasa bermakna bagi kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,287 other followers

%d bloggers like this: