Jejak Kehidupan


Pademangan adalah dermaga tempat perahunya berlabuh. Di tempat itu ia adalah anak orang miskin. Memang, ia tidak sendirian merasakan kemiskinan. Seluruh keluarga terjebak oleh keadaan itu. Perahu itu diyakininya akan berlayar entah ke mana. Sekolah tidak dinikmati seperti anak jaman sekarang. Biduk bahtera keluarga saat itu hanya mampu menghantar sampai ke SMP.

Meski ombak besar, ia terus berjalan. Ia harus bekerja. Jadilah, ia seorang “pengumpul coin” di meja bilyard milik seorang tauke yang sukses di kampungnya. Bekerja menjadi arena uji coba hidup dan kehidupannya. “Kenapa kau minta berhenti bekerja?”, tauke itu bertanya setengah kaget saat ia minta berhenti bekerja. “Gaji akan saya tambah, tapi harus kerja di tempat saya”, si tauke mencoba sedikit mempengaruhi keputusannya.

Perahu mulai meninggalkan dermaga. Dayung digerakkan sedikit demi sedkit. Akhirnya, jadilah ia tukang gunting terkenal di Pademangan. Orang banyak yang antri. Dari pagi hingga malam Ia layani dengan baik. Aliran bakat ibunya sebagai “penata barut” begitu deras menggulir di tangannya hingga semua puas terlayani.

Uang di tabung. Uang jadi modal untuk membuka di tempat lain. Orang masih banyak berdatangan. Perahu berlayar untuk mencari dermaga baru lagi. Semua orang puas karena pelayanannya memuaskan. Dermaga perahu yang baru dibangun banyak orang berlabuh di situ.

Krisis Mei 1998 adalah onak nakal yang mengelimpangkan 19 outletnya. Habis dijarah. Eksodus hidup di Amerika, jalan emosional yang terbaik. Tapi tidak kalah. Tidak ada PHK. Yang ada “mari bersatu untuk bangkit”. Krisis itu tidak jadi menenggelamkan perahu yang ditambatkan. Justru sebaliknya menjadi berani membuka outlet di mall-mall. Sekali lagi sedikit demi sedikit “just do it” mulai di kembangkan layarnya. Dan berhasil, dengan judul “salon dan training centre Johnny Andrean”.

Semakin perahunya ditumpangi banyak orang semakin tidak cukup untuk menampungnya. Melirik ke Singapore untuk membeli “franchise” Bread Talk. Ternyata saingannya banyak dan sulit. Namun ada keyakinan bahwa “kepercayaan seorang mahal harganya daripada harta dan modal yang dimiliki”. Ia yakin bread talk bisa jaya. Maka, tidak ragu lagi ownernya diajak untuk melihat Johnny Andrean yang berdiri gagah di Mall-mall. Akhirnya, Tuhan memberinya karena ia sudah mengetuk pintunya.

J.CO ada apa? Pemilik perahunya adalah seorang yang lahir dari keluarga miskin di Pademangan. Lho kok bisa? I have dream. Maka jadi kenyataan, karena Ia mempelajari ilmu donat sampai ke mana-mana. Intisari tepung yang terbaik itulah yang diolahnya jadi donat. Coklat yang apabila kena air liur langsung nyaman, itulah yang dicari. Kopi taste italiano itulah yang disajikan.

Ada falsafah yang dipegangnya. Kalau kita minta kepada Tuhan, pasti Tuhan akan memberi karena kebaikan, kerajinan, keuletan yang telah kita buat. Terima kasih sharing Bapak Johnny Andrean.

About jejakperahu

Menjaga keseimbangan atau harmonisasi antara alam, bangunan dan spiritual merupakan obsesi saya. Obsesi ini sama dengan upaya pembinaan dan pembangunan karakter manusia yang mengutamakan keselarasan antara emosi, moral dan spiritual.

Posted on 18 September 2009, in Humaniora and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: