KBK itu Kurikulum Berbasis Kehidupan


Kemarin sore, tiba-tiba bos menelpon saya lewat hp nokia saya. Saya langsung bangun dan segera menjawab telpon masuk dari bos saya itu. “Besok kamu dapat tugas untuk memberikan sambutan pada saat peluncuran buku untuk mewakili Yayasan” Dalam hati, kenapa kok saya yang disuruh memberikan sambutan. Kegundahan hati saya ini langsung sirna ketika saya diajak untuk berdiskusi soal isi sambutan. Intinya, masih dalam telpon, agar sambutan yang nanti disampaikan jangan tumpang tindih dengan sambutan yang lain atau yang sudah disiapkan oleh Kepala Sekolah maupun Penulis buku.

Perintah bos saya itu membuat saya tidak bisa tidur. Reaksi spontan saya adalah bagaimana saya membuat sambutan itu yang konon akan dibacakan dihadapan 1000-an tamu. Memang, oleh bos, saya diberi rambu-rambu sambutan. Saya diminta untuk menyampaikan soal munculnya akte pendirian dan perkembangan di jalan salib suci mahawu dan kebun raya.

Paginya saya dipanggil bos di kantor. Beliau bertanya tentang apa yang akan saya sampaikan dalam sambutan itu. Kami berdiskusi. Saya juga bertanya apakah akte pendirian Yayasan itu memang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya? Lalu Bos saya menjawab. Katanya, pada tahun 1994 bos saya kena penyakit yang bisa berakibat kematian seperti yang dialami oleh kakaknya. Bos saya bertekad untuk tidak mati gara-gara penyakit itu. Bos saya ini ternyata terjangkit penyakit hepatitis B yang sangat berbahaya. Menyadari ini, lalu bos saya pergi keliling dunia untuk berobat. Eropa, Asia, Amerika, Australia dikunjungi untuk hanya penyembuhan.

Yang menarik adalah keingingan untuk tidak mau mati ternyata memberikan dorongan untuk mencari apa arti kehidupan. Mati adalah proses kehidupan manusia yang mau tidak mau harus diterima. Tetapi mati sia-sia itulah yang tidak dimau oleh bos saya. Ia ingin matinya tidak sia-sia. Karena itu ia membaca Alkitab sampai tuntas sebanyak lebih dari tiga kali. Tidak hanya itu, bos saya membaca Al quran juga. Kegiatan yang dilakukan bos saya ini pada awal mulanya membuat kaget seluruh keluarga besarnya, meski selanjutnya apa yang dibuat bos saya ini pada akhirnya didukung.

Orang mati itu harus meninggalkan bukan harta kekayaan tetapi amal, sholeh.

About jejakperahu

Menjaga keseimbangan atau harmonisasi antara alam, bangunan dan spiritual merupakan obsesi saya. Obsesi ini sama dengan upaya pembinaan dan pembangunan karakter manusia yang mengutamakan keselarasan antara emosi, moral dan spiritual.

Posted on 30 November 2009, in Kurikulum, Pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: