Menyekolahkan si Burung Cendrawasih


Pertama kali menginjakkan kaki di Timika, kesan pertama adalah “panas”. Otomatis keringat meluncur deras dari kepala hingga badan. Apakah ini disebabkan karena kami berasal dari daerah dingin Tomohon atau memang udara saat kami tiba di bandara sedang panas-panasnya.

Setelah tiba di bandara, kami dibawa ketempat penginapan Serayu yang berada di dekat pasar tradisional yang belum lama ini terbakar. Kami langsung check-in dan istirahat karena kami berangkat dari Tomohon pukul 3 dini hari. Rasa ngantuk dan panas mendorong kami untuk istirahat sejenak sekalian beradaptasi dengan lingkungan setempat. Kami datang ke Timika bertiga. Saya sendiri yang baru pertama kali datang di Timika Papua ini.

Pengalaman perjalanan ke Timika dengan pesawat terbang dari bandara Sam Ratulangi Manado seakan menjejal di benak saya. Betapa tidak. Dari guest house, saya sudah dijemput jam 3 lebih lima belas menit. Artinya saya harus udah siap di tempat paling lambat setengah jam sebelumnya untuk mandi dan seterusnya. Bisa dibayangkan pasti tidur saya tidak nyenyak. Terus terang memang betul. Kepikiran mau pergi dan jangan terlambat menguasai benak saya hingga tidur saya setengah-tengah. Okelah itu pengalaman yang saya anggap biasa melanda orang yang berpergian dengan pesawat yang take-offnya pagi-pagi sekali.

“Nikmatilah perjalanan dengan senyaman-nyamannya”, itulah prinsip saya dalam setiap perjalanan. Mengapa? Karena perjalanan itu sudah ada yang mengaturnya dan penumpang hanya bisa mengikutinya. Meski demikian saya mencoba menikmati karena malam hingga pagi, saya kurang tidur. Karena itu rencana mau tidur di dalam pesawat sedikit terpenuhi. Goyangan pesawat menembus awan kadang membangunkan saya. Tapi sekali lagi dinikmati saja.

Pesawat ternyata tidak langsung ke Timika. Pesawat ternyata transit di Sorong. Saat mendarat, kami sedikit merasakan ketidaknyaman karena sangat terasa landasannya tidak mulus dan kejutan rem pesawat sedikit menggoyangkan tubuh saya ke depan. Saya mencoba menganalisa mengapa begitu. Teman saya mengiyakan ketika saya mengatakan bahwa landasan pacunya pendek kurang panjang.

Kami disuruh turun menuju ke ruang tunggu bandara Sorong selama tiga puluh menit. Kesempatan itu saya gunakan untuk berfoto ria di depan tulisan bandara Sorong. Di ruang tunggu yang tidak luas saya melihat masyarakat papua yang sedang duduk dan di luar tampak mereka berkebun di sekitar bandara. Yang menarik adalah apa yang dijual di ruang tunggu. Ada kripik keladi, dendeng kera, sarang lebah madu dan kaos-kaos dengan motif papua dan keindahan alam pulau cendrawasih. Belum selesai memanjakan mata untuk melihat-lihat, petugas sudah berteriak-teriak kepada penumpang transit untuk masuk ke pesawat. Oh ya waktu turun dari pesawat bis bandara yang mirip Damri membawa penumpang ke ruang tunggu. Namun setelah diketahui jarak antara ruang tunggu dan pesawat tidak jauh, maka saya putuskan jalan kaki saja sekalian melemaskan otot-otot kaki agar lebih rileks.

Perjalan dari Sorong ke Timika ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam. Saat mendarat dan terbang saya gunakan untuk melihat kondisi hutan bumi Cendrawasih. Di sana-sini kelihatan ada penebangan dan pemukiman penduduk. Mungkin juga yang saya lihat dari pesawat itu kota Sorong Timur atau Barat. Tapi entalah.

Kejadian yang saya ceritakan itu terjadi pada hari Sabtu (6/3/2010). Setelah istirahat sejenak, teman saya mengajak jalan-jalan keliling kota Timika. Anehnya, ketika kami keliling kota hujan lebat tiba-tiba turun tanpa disertai mendung terlebih dahulu. Fenomena alam ini saya tanyakan kepada Bapak yang mengantar kami dan beliau bilang “inilah Timika”. Maksudnya barangkali ya begitulah cuaca di kota Timika. Setelah keliling kesan saya adalah bahwa Timika ternyata tidak luas sekali. Lima belas menit keliling kota so kelar. Selain itu, saya melihat pembauran masyarakat dari berbagai macam daerah telah terjadi di Timika. Maka jangan heran kalau membaca spanduk seperti ini “Mie Bakso Jogja”, “Coto Makasar”, “Medan Jaya”, Wonosari,”Dabu-dabu”, “Ene Eme Yaware”. Tulisan-tulisan itu memberikan tanda bahwa Timika dihuni oleh orang-orang dari Jawa, Bugis, Manado, Maluku, dan beberapa suku Papua. Juga saya melihat bule-bule mengendarai Land Cruisernya di jalan-jalan. Maklum saja, Timika adalah kotanya FreePort.

Menyekolahkan si Burung Cendrawasih

Kuala Kencana itulah tempat pertama yang saya kunjungi bersama-sama dengan teman saya. Di Kuala Kencana kami diundang untuk mengadakan tes masuk ke sekolah kami. Salah satu Bapak Guru Sekolah SMP di situ mengantar kami ke ruangan tempat tes. Saya melihat ada 12 siswa sudah duduk di bangkunya masing-masing untuk mengikuti tes. Teman saya kemudian membuka amplop bahan tes dan membagikan kepada para peserta tes. Rupanya ketika tes berlangsung saya dan Kepala Sekolah dipanggil oleh Guru untuk memberikan penjelasan tentang Sekolah kami. Dengan LCD, kami jelaskan tentang seluk-beluk sekolah kami yang berasrama.

Field Trip Sekolah

Sekolah SMP di Kuala Kencana ini adalah sekolah yang sangat populer dan sarat dengan prestasi. Banyak lulusan dari sekolah ini melanjutkan ke SMA-SMA favorit di Jawa. Maklum, sekolah ini berada di lingkungan pemukiman karyawan-karyawan Freeport sehingga kualitas dan sistem manajemennya mengadopsi sistem “Amerika”.

Pada Hari Senin kami sosialisasi di depan murid-murid SMP se-Timika. Kembali kami menyampaikan materi tentang sekolah kami melalui LCD. Tampak sekali mereka begitu antusias mendengarkan dan beberapa berinisiatif untuk bertanya dan mengetahui bagaimana caranya sekolah di tempat kami. Semakin lama semakin ruangan pertemuan itu dipenuhi oleh siswa-siswi SMP dari Timika. Yang menarik dari pertemuan itu adalah minat dan motivasi mereka untuk bersekolah di sekolah yang baik cukup tinggi. Ini dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan.

Belajar Ekonomi Kerakyatan di Pasar

Kami tidak sendirian dalam sosialisasi ini. Sekolah dan perguruan tinggi yang menjadi mitra pendidikan bagi lembaga pengembangan masyarakat di Papua juga mengadakan sosialisasi.

About jejakperahu

Menjaga keseimbangan atau harmonisasi antara alam, bangunan dan spiritual merupakan obsesi saya. Obsesi ini sama dengan upaya pembinaan dan pembangunan karakter manusia yang mengutamakan keselarasan antara emosi, moral dan spiritual.

Posted on 25 March 2010, in Pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. muda mudahan pendidikan di papua masih dengan prestasi yang yang baik, agar kami papua juga bisa bersaing dengan teman teman lain yang yang berpendidikan di sekolah yang pasilitas nya lengkap..
    ini harapan saya ..umumnya di papua..khsusnya di timika..agar kami generasi mudah bisa dapat membangun kota timika dengan ilmu yang kita miliki..

  2. NAMA SAYA. joni alomang.TTL.agimuga,12 juni 1992.saya selesai SMP di agimuga..
    sekarang lagi lanjutsekolah menenga atas di SMA st MICAHEL DI KOTA SEMARANG..
    SAYA MOHON KEPADA
    Bapak kepala biro pendidikan di kabupatem mimika.tolong perhatikan sekolah yang jau dari kota di polosok polosok.karena dengan berdasarkan itu mereka bisa menyusuaikan diri dengan teman teman yang lain bila selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: