Berwisata itu Bukan Cuma Mengunjungi Obyek-obyek Wisata


Letusan Gunung Soputan

Beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar bahwa ada rombongan akan datang berwisata di daerah Manado dan sekitarnya. Lebih menariknya lagi di antara rombongan itu ada teman saya. Mendengar kabar itu, saya lalu kontak dengan teman saya. Kebetulan nomer hpnya masih ada di daftar contacts hp saya.

“Saya dengar mau ke Manado ya?” Lalu teman saya menjawab, “Betul. Kok tahu?” “Lha iya lah masak lha iya donk”, saya sedikit bercanda dengan gaya anak muda. Teman saya ini sewaktu sama-sama kuliah suka bercanda alias humoris. Nada canda ini, upaya saya untuk mengingatkan kembali keakraban saya dengan dia ketika sama-sama kuliah.

Terus terang berita kedatangan teman saya di Manado membuat saya senang bukan main. “Kalau boleh tahu, dalam rangka apa rombonganmu berwisata?” Terdengar suaranya yang agak putus-putus karena jaringan selulernya kurang baik diterima di tempat saya. “Berlibur. Ingin santai dari kesibukan sehari-hari. Yah, melepas penat gitu. Kami berliburan selama 5 hari”, katanya. Sebelum saya menjawab, dia bertanya, “He, apa bisa bantu? Yah, apakah ada usulan agar wisata kami sungguh-sungguh bisa refreshing?”. “Oke, saya akan bantu deh dan nanti kita lanjutkan lewat e-mail ya” Pembicaraan kami pun terputus.

Saya pun kemudian melanjutkan pembicaraan dengan teman saya melalui e-mail. Isi e-mail saya pertama adalah memberi gambaran soal itinerary atau jadwal wisata tournya. Mulai dari dijemput di Bandara Sam Ratulangi sampai diantar kembali lagi ke airport Sam Ratulangi. Sebenarnya 4 hari saja sudah cukup untuk menikmati wisata di tanah Minahasa sudah termasuk Manado. Tetapi karena teman saya tadi sudah menjadwalkan sepekan atau lima hari. Ya, sudah nanti jadwalnya boleh “baku atur”. Oh ya ada informasi rombongan akan tidur 3 malam di Tomohon dan 1 malam di Manado.

Secara garis besar itinerary yang saya tawarkan begini. Hari pertama, setelah dijemput di Bandara sekitar jam satu siang Wita, rombongan diajak untuk makan siang di salah satu rumah makan yang mempunyai view menghadap lautan Manado dan pulau Manado Tua. Jika sunset tiba, tempat ini menjadi sangat indah. Sehabis makan siang, sight-seeing kota Manado. Lalu rombongan bergerak ke arah Tomohon. Sesampainya di daerah Winangun, rombongan berhenti ke patung Yesus memberkati. Setelah berfoto, rombongan melanjutkan ke Tomohon untuk check-in di penginapan.

Pagi harinya, atau hari Kedua, jadwal wisata mengarah ke tempat-tempat Wisata di Minahasa. Biasanya kami sebut Full-day Minahasa Tour. Tempat-tempat yang kami kunjungi Bukit Doa Tomohon, Danau Linow, Bukit Kasih, Danau Linow lalu kembali ke penginapan.

Kelong Garden


Hari Ketiga, acara pertama adalah mengunjungi tempat wisata yang pada hari pertama belum bisa dikunjungi karena sudah gelap. Ini bisa terjadi karena mungkin terlalu lama di salah satu wisata atau karena hujan lebat. Pada hari ketiga ini, perkenalan terhadap seni dan budaya menjadi fokus kunjungan. Waruga, Tarian Kabasaran, Tarian Maengket, Musium Adat Minahasa dan pembuatan rumah kayu khas Minahasa menjadi sarana untuk wisata budaya. Jika ada waktu, rombongan diajak untuk Bitung untuk melihat species monyet terkecil yang terkenal dengan Tarsius.

Pada hari Keempat, jadwal mengarah ke Bunaken atau disebut Bunaken Tour. Agar tidak terkena gelombang laut yang besar, maka sejak awal diumumkan agar peserta bangun pagi dan sarapan lebih awal karena akan menyeberang dari Manado ke Taman Nasional Bunaken pagi-pagi. Sekitar jam tujuh sudah ada di pantai Manado. Melihat taman laut Bunaken bisa dengan dua cara. Langsung dari Perahu Katamaran atau melalui kapal sub-marine. Untuk penggunaan sub-marine, harus pesan jauh-jauh hari. Setelah puas menikmati taman laut, peserta bisa snorkeling dan foto-foto dibawah laut. Untuk perlengkapan ini, bisa di sewa di pulau Manado tua yang tidak jauh dari tempat snorkeling. Bagi yang tidak snorkeling, bisa jalan-jalan di pulau Manado tua sambil membeli souvenir atau makan seafood di warung-warung penduduk yang ada.

Biasanya kembali dari Bunaken sekitar jam dua siang atau lebih, kalau berangkatnya dari Manado pagi hari. Sepulangnya dari Bunaken, rombongan diajak untuk mencari souvenir mengingat besok sudah meninggalkan tanah Nyiur Melambai. Setelah berputar-putar mencari tempat souvenir dan oleh-oleh, rombongan bisa diajak untuk wisata Kuliner makan sea food di pinggir pantai Kalayse arah Amurang. Kepiting Kenari menjadi kuliner eksotik yang kerap diburu oleh wisatawan.

Sekilas, itinerary yang saya sampaikan ke teman saya itu sudah cukup untuk “bapontar” di tanah Toar Lumimuut. Namun saya juga memberikan alternatif destinasi wisata lain boleh dikata lebih ektrim. Yang saya tawarkan adalah merasakan “arum jeram” di Timbukar yang berada di daerah Sonder. Di tempat arum jeram ini ada dua air terjun yang bisa dinikmati keindahannya. Selain itu, saya juga menawarkan outbound seperti flying fox dan high ropes. Tawaran ini sifatnya optional memang. Tetapi maksud saya sebenarnya adalah berwisata itu bukan cuma mengunjungi obyek-obyek wisata yang ada tetapi wisatawan bisa merasakan pengalaman-pengalaman yang mengasyikkan dengan cara berinteraksi dengan alam setempat.

Saya juga menawarkan kepada rombongan untuk lebih memahami budaya Minahasa dengan mengadakan acara yang sering disebut “beking sabuah” di malam hari setelah seharian “bapontar”. Dalan acara “sabuah” itu, para peserta bisa menyaksikan musik bambu, tarian-tarian Minahasa seperti Katrili, Maengket atau yang lain. Salah satu yang digemari oleh masyarakat Minahasa adalah “ba dansa” rame-rame sambil diiringi musik dan nyanyian. Tradisi ini mengingatkan pada kultur Portugis yang suka berdansa setealh menikmati hidangan. Dalam acara ini, peserta bisa sekaligus mencicipi kuliner ekstrim Minahasa yang sudah terkenal dengan sebutan “masakan Manado”. Rasanya dengan mengadakan pesta ala Manado ini, berwisata menjadi lebih asyik dan mengesan. Sangat disayangkan kalau acara berwisata menjadi capek hanya karena mengunjungi tempat-tempat wisata yang sudah terjadwal bukan merasakan eksotisme wisata yang ada.

Kepada teman saya, saya menceritakan bahwa saya pernah membawa wisatawan manca negara ke tempat-tempat pembuatan oleh-oleh atau makanan khas Minahasa seperti memasak makanan dari bambu. Tidak hanya itu, mengantar tamu untuk climbing ke Gunung Mahawu pun pernah saya jalani. Rata-rata mereka suka berlibur yang sifatnya menantang seperti climbing ke Gunung.

Saya sampaikan semua itu ke teman saya tadi sebelum menginjakkan kakinya di tanah Nyiur Melambai. Dengan harapan agar acara wisatanya yang sekaligus liburan itu sungguh membuat badan ini menjadi refesh dan setibanya di rumah badan terasa segar dan memulai pekerjaan rutinnya dengan semangat baru.

About jejakperahu

Menjaga keseimbangan atau harmonisasi antara alam, bangunan dan spiritual merupakan obsesi saya. Obsesi ini sama dengan upaya pembinaan dan pembangunan karakter manusia yang mengutamakan keselarasan antara emosi, moral dan spiritual.

Posted on 31 March 2011, in Jalan-jalan, Wisata and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: