10 Tips NgeBlog Berdasarkan “Learning by Doing”


Learning by doing. Belajar dari apa yang (sedang) dikerjakan. Atau membuat pembelajaran ketika mengerjakan sesuatu. “Banyak orang bisa bekerja, tapi sedikit yang pintar dalam bekerja”, itulah yang dikatakan sahabat saya ketika bebincang tentang esensi bekerja. Banyak orang bisa menulis tetapi belum tentu pintar menulis sehingga disukai pembaca.

Maka tak heran, kalau ungkapan populer itu saya cecarkan berkali-kali kepada teman-teman saya, ketika bertanya tentang tips-tips membuat tulisan di Kompasiana. (Ia tanya soal itu karena aktif membaca tulisan yang ditayangkan di Kompasiana). Dalam hati, saya bisa saja mengatakan kepada teman saya, “pokoknya, tulis apa saja yang ada dalam benak pikiranmu sekarang. Curahkan itu semua dalam tulisan sesuai gerakan hati, pikiran dan perasaanmu”. Tapi, yang ini tidak saya sampaikan kepada teman saya. Cuma saya batin saja.

Lalu, apa hubungannya “Learning by doing” dengan menulis sesuai dengan gejolak hati pikiran dan perasaan? Apakah ini semacam prinsip-prinsip yang ditanamkan dalam sebuah kebiasaan yang menjadi sikap pribadi dalam hal tulis menulis?

Jawabannya ya. Tapi, untuk jelasnya silahkan baca 10 Prinsip Menulis dalam Ngeblog berdasarkan learning by doing-nya saya dalam menulis, berikut ini.

1. Facebook: pertemanan di dunia maya punya peran penting dalam tulis-menulis. Kehadiran facebook sangat membantu dalam merumuskan perasaan, hati dan pikiran dalam bentuk tulisan entah pendek atau sedikit panjang. Sifat tulisan yang kita tulis dalam jejaring sosial ini, amat berantai bahkan tidak putus-putus. Update Status, Chating, Komentar, Kirim Foto dll yang difasilitasi oleh jejaring sosial itu, berperan untuk belajar menulis dan menganalisa reaksi teman atas apa yang kita tulis. Sangat impresif buat yang mau belajar nulis dan banyak punya teman.

2. Learning by Blogging: punya blog personal itu lebih bagus untuk ajang latihan menulis tanpa berharap dibaca atau dikomentari. Yang jelas, silahkan menulis apa saja di blogmu secara etis dan bijaksana. Maksudnya, tahu dan mengerti mana yang patut dan pantas ditulis dan tidak merugikan orang lain. Jika terjadi hal-hal yang merugikan bagi pembaca akibat dari apa yang kita tulis, kita tahu itu masuk dalam ranah hukum dan pemblokiran blog atau disuspend. Oh ya, blog personal kita bisa menjadi bank data tulisan-tulisan yang pernah kita kirim ke berbagai media. Itulah sebabnya mengapa dalam Telkomsel Kompasiana Blogshop, Learning by Blogging menjadi motto-nya.

3. Fotografi: meski tidak wajib tetapi tetap dianjurkan bagi penulis. Mengapa? Karena tulisan yang menarik adalah tulisan yang aktual. Supaya aktual maka dilengkapi dengan foto. Falsafah foto adalah fotolah yang nanti berbicara sendiri kepada pembaca. Bahkan, jika dicermati, hampir sebagian besar kompasianer sudah tidak melupakan lagi memberi sisipan foto-foto dalam tulisannya. Jika deskripsi tulisan kita kurang jelas, maka foto itulah yang akan memperjelas maksud tulisan kita.

4. Share: yang dimaksudkan share di sini adalah membagikan tulisan kita kepada teman, orang lain sebanyak mungkin sesuai dengan jejaring sosial yang kita punyai. Untuk share, sekarang sangat mudah. Setiap postingan kita di kompasiana atau di blog bisa kita share ke FB, G+, Twitter, Stumble, Digg, dll. Ini memungkinkan tulisan kita banyak dibaca oleh orang lain. Tips saya, sebelum men-share tulisan, cek dan ricek dulu tulisan kita sudah benar dan baik secara lingustik, estetik, dan daya tarik dari tulisan kita.

5. Invite: kata invite, kini makin populer dipakai untuk menjadikan teman kita ada dalam jaringan perteman kita, bukan untuk ngobrol tetapi untuk mengomentari setiap postingan kita. Pengalaman saya membuktikan bahwa ketika postingan saya share, teman yang belum menjadi kompasianer akhirnya bisa komentar setelah menjadi anggota.

6. Sharing, Connecting: Ungkapan ini saya copas dari tulisan di bawah header Kompasiana. Rupanya jargon yang dipajang paten itu, selain menjadi trade marks Kompasiana, bisa juga memotivasi orang untuk bersemangat menulis dan menulis. Maka dari itu, nikmatilah hidup ini dengan menulis.

7. Searh: Fasilitas search sudah otomatis dipasang di hampir semua blog termasuk Kompasiana. Saya sering memakainya untuk mengecek apakah judul saya sudah pernah ada yang menulis. Juga untuk mengecek apakah ide-ide yang kita tuangkan dalam tulisan, sudah pernah dibahas atau ditulis oleh orang lain. Sungguh search membantu kita untuk uji kualitas tulisan yang kita buat.

8. Content: atau isi tulisan atau point of interest (POI) dari setiap tulisan sebenarnya sudah dibantu dalam post rubric dan post type oleh Kompasiana. Kalau isi tulisan kita soal olah raga, masukan dan sesuaikan dengan rubriknya dan tipe tulisan kita, apa reportase atau opini. Isi tulisan kita termasuk gaya penulisan dan panjang pendeknya tulisan yang kita buat.

9. Kompetisi: atau ikut lomba menulis dengan tema tertentu atau dalam rangka tertentu, juga menjadi pemicu bagi para penulis untuk mengukur kualitas setiap tulisan yang kita posting. Tapi, di lain pihak kita, penulis, terbantu untuk menulis dengan fokus atau sesuai dengan tema yang dilombakan. Berani kit lomba, berarti anda sudah bisa menulis.

10. Kompasianer: nah tips yang terakhir ini adalah tips yang membuat orang berani masuk dalam dunia tulis menulis dan siap dikomentari apa saja atas tulisan yang dimuat.

Demikian 10 Prinsip Menulis dalam Ngeblog berdasarkan proses “Learning by Doing” yang saya pratekkan dalam setiap proses kreatif saya dalam tulis menulis di blog dan di Kompasiana. Sebelum menulis, sepuluh prinsip itu saya benamkan dalam pikiran liar saya dulu baru kemudian dengan berbekal prinsip itu, saya bisa mulai menulis dan menulis lagi.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk teman saya yang ada di Amerika yang suka sekali membaca tulisan-tulisan Kompasianer. Tak lupa juga untuk teman-teman fotografer yang sering mengajak hunting foto dan di situlah saya belajar membuat foto berkonsep. Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

About jejakperahu

Menjaga keseimbangan atau harmonisasi antara alam, bangunan dan spiritual merupakan obsesi saya. Obsesi ini sama dengan upaya pembinaan dan pembangunan karakter manusia yang mengutamakan keselarasan antara emosi, moral dan spiritual.

Posted on 31 August 2011, in Pendidikan and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: