Sriping Semarang Bikin Ngeces


Apa yang membuat anda tertarik datang ke kota Semarang? Biasanya dijawab karena di Semarang banyak terdapat gedung-gedung tua peninggalan jaman Belanda. Sebut saja, kawasan kota Tua di daerah Gedangan dengan Gereja Blendug sebagai ikonnya. Ikon gedung tua lainnya yang menarik banyak wisatawan adalah Lawang Sewu, gedung yang mempesona karena “angkernya”.

Penyuka fotografi, saya yakin tak akan pulang sebelum memotret kawasan kota tua, Lawang sewu, atau Kelenteng Sam Po Kong di Gedung batu. Spot-spot itu rasanya ikonik banget buat fotografer.
Magnet Semarang lainnya adalah kawasan kuliner di Jalan Pandanaran yang tak jauh dari Lawang Sewu. Bandeng menjadi kuliner favorit yang diburu oleh wisatawan untuk dibawa sebagai oleh-oleh selain lumpia gang baru dan wingko babadnya.

Tapi ada satu kuliner yang selalu saya buru bila pulang ke Semarang. Bahkan, saya sering bercanda sama teman saya, kalau belum menyambangi kuliner ini belum rasanya betah di Semarang.

Konon kata Semarang berasal dari suburnya pohon Asem yang subur tapi jarang (arang) berbuah dan saat itu ditanam oleh Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I) abad ke 15 M mulai dari Pargota (Bergota), hingga ke pelabuhan. Sunan Pandanaran ini berasal dari Kerajaan Demak yang ditugaskan di wilayah Pargota atau Semarang.

Pernah anda mendengar “srimping” atau biasa juga disebut simping? Dalam bahasa Inggris disebut “capiz shell”. Kerang ini banyak dijual di hampir sebagian rumah makan sea food di Semarang. Uniknya, bukan dagingnya saja yang memikat tetapi kulit kerangnya pun dimanfaatkan (setelah dicuci bersih dan dibuat mengkilap) untuk kerajinan seperti kerei. Manfaat lain dari kulit kerang ini adalah menjadi campuran untuk makan ternak setelah kulit kerang itu ditumbuk menjadi tepung.

Senin siang (24/6) kerinduan untuk berwisata kuliner kerang Simping terobati. Bersama seorang teman, saya menuju ke rumah makan seafood langganan saya, yaitu Pak Sangklak. Sejauh saya tahu, sejak dulu, rumah makan special sea food Pak Sangklak ini ada tiga tempat yaitu Pantai Tanjung Mas, Telaga Mas (Perumahan Tanah Mas) dan Lingkar Tanjung Mas.

“Kita pergi saja ke Pantai Tanjung Mas. Soalnya saya bawa kamera, Biar nanti bisa foto-foto di pantai” pinta teman saya dan saya pun nggak menolak. Lalu kendaraan saya arahkan ke jalan arteri (jalan lingkar) Tanjung Mas searah dengan pelabuhan Semarang.
Rumah makan Pak Saklak sudah di depan mata, namun tiba-tiba kami dihentikan oleh Satpam yang menjaga di pintu masuk. “Maaf, bapak mau ke mana?” “Saya mau ke Pak Sangklak” “Maaf Bapak, kondisi sekarang tidak bisa dilalui karena sedang banjir. Air laut menutupi jalan menuju ke Pak Sangklak”

Rasa kecewa pun seketika membuncah di hati. Bayangan memotret di sekitar pantai pun sirna. Bersamaan dengan rasa tak karuan itu, mobil saya putar dan akhirnya saya parkir di Pak Sangklak yang berada di jalan lingkar Tanjung Mas, di sebuah restoran sea food yang berlantai keramik dengan tembok warna orange yang tampak kokoh.

“Pesan Sriping Goreng setengah kilo, udang asam tiram satu porsi, cumi lombok ijo satu porsi, sayurnya ca kangkung coto dan minumnya es jeruk nipis dua, nasi tiga porsi ya” pesan saya kepada pelayan. “Kepiting mau?” tanya teman saya. “Ah nggaklah, siang-siang makan kepiting bisa langsung panas nanti” gurau saya.

Tak kurang dari 15 menit, pesanan kami sudah datang secara bersamaan. Rasa lapar yang sudah ditahan sejak tadi pelan-pelan mulai “dihibur” sejak pesanan itu berada di meja.
“Srimpingnya dulu ah. Sudah rindu sekali sama lazisnya eh lezatnya kuliner ini” ujar saya sambil membayangkan para selebriti di TV swasta yang lagi nguliner sambil membahasakan kelezatan makanan.

Pesanan tadi kemudian kami santap berdua. Sebelum kami tiba, dua tempat sudah diisi oleh tamu dan saat saya lirik tampak sriping ada depan mereka. Bahkan ketika kami sedang menyantap, tamu yang baru datang pun tak ketinggalan memesan sriping.
“Selamat datang pemangsa (kerang) Sriping!” gurau saya pada teman saya setelah tahu bahwa semua tamu siang itu pesan sriping.

Dalam perjalanan pulang, saya bertanya pada teman saya. “Berapa harga Srimping tadi?” Lalu teman saya merogoh nota yang sudah ia masukan dalam dompetnya. “1/2 kg Srimping 25 ribu. 1/2 kg Udang 80 ribu dan 1/2 kg Cumi Lombok Ijo, 40 ribu” jawabnya. “Wah tadi sebaiknya Srimpingnya satu kilo ya. Biar puas. Tapi segitu saja udah kenyang banget kok” komentar saya.
Udara panas “menyengat” kota Semarang apalagi di posisi Semarang Bawah sekitaran Tanah Mas, siang itu saya rasakan biasa-biasa saja. Tak masalah bagi saya yang seharian tinggal di gunung yang sejuk. He he he soalnya perut sudah terisi dengan Sriping tadi.

Kalau anda berkunjung ke Semarang jangan lupa mencicipi kuliner kerang Sriping yang banyak dijual di rumah makan sea food. Rasanya belum ke Semarang kalau belum merasakan lazisnya Sriping he he he

alt=”20130626-143347.jpg” class=”alignnone size-full” />

20130626-143152.jpg

About jejakperahu

Menjaga keseimbangan atau harmonisasi antara alam, bangunan dan spiritual merupakan obsesi saya. Obsesi ini sama dengan upaya pembinaan dan pembangunan karakter manusia yang mengutamakan keselarasan antara emosi, moral dan spiritual.

Posted on 26 June 2013, in Jalan-jalan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: