Hunting Malam di Gedung Angker Lawang Sewu


20130628-031222.jpg

Entah apa yang membuat langkah saya terhenti kaku di depan pintu masuk Gedung tua bersejarah itu, tadi malam (24/6).

Tak ada rencana sebelumnya untuk “mampir” ke Lawang Sewu. Sebenarnya saya berniat untuk mencari angkutan umum yang melintas di jalur Pandanaran, jalan sebelah Selatan gedung tua itu. Ya, cari kendaraan untuk pulang setelah berkelana sejenak di DP Mall, supermarket di sebelah Utara gedung angker itu.

“Mau masuk Mas? Sepuluh ribu. Ada guide mau diantar Mas?” ucap seorang ibu dari dalam Tiket Box yang diletakkan di pojok kiri pagar besi bercat hitam. “Nggak bu. Saya cuma mau ambil foto-foto malam aja di sini” jawab saya sekenanya. Malam itu yang antri beli tiket masuk seharga Rp. 10.000,- per lembar, di belakang saya lumayan panjang.

Meski malam tapi serasa siang. Lighting lampu yang menyoroti di setiap sudut gedung tua itu begitu terang hingga kendati malam Lawang Sewu nampak kokoh berwibawa oleh sinaran lampu-lampunya. Sepertinya usia tuanya sejak mulai dibangun 27 Februari 1904 dan selesai 1907 tak halangi wisatawan datang untuk uji nyali. Lawang Sewu ini awalnya dibangun untuk kantor NIS (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij).

Saya tak langsung masuk, tapi beristirahat sejenak di bangku taman yang terbuat dari kayu jati kuno di depan gedung. Sambil duduk di situ, saya mengamati suasana malam di halaman Lawang Sewu. Rupanya, setelah saya masuk tak kurang dari lima rombongan, malam itu, juga masuk. Mereka diantar oleh guide-guide yang sejak tadi standby di dekat Tiket Box. “Kalau banyak wisatawan kayak gini, angkernya terbagi alias ada temennya he he he he” batin saya hibur diri sambil keluarkan kamera dari ransel saya.

Aneh, malam itu saya merasa gerah. Keringat terus menerus mengucur dari kepala leher saya sehingga kadang mengganggu saat mata membidik keindahan malam gedung tua yang sempat menjadi lokasi pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945) antara AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kempetai dan Kidobutai dari pihak Jepang.

Kamera tetap beraksi membidik setiap lekukan gedung luar Lawang Sewu. Bahkan saat berada di ruang dalam yang digunakan untuk pameran foto dan memajang barang-barang kuno peninggalan kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), saya seolah tak mau lepas dengan kamera saya untuk memotret “keangkeran” Lawang Sewu.

“Bapak mau masuk ke gua bawah tanah?” tanya seorang petugas saat saya mendekati ruang gelap yang di depan pintu masuknya terdapat banyak sepatu boot berjejeran dan beberapa senter. Tawaran ini menghenyak saya sejenak, Bayangan tentang keangkeran gedung tua ini makin mendekati kenyataan. “Silahkan di lihat dulu pak pintu masuknya. Siapa tahu bapak berniat masuk” lanjut petugas tadi yang sudah berada di belakang saya.

Sementara itu, rombongan anak muda bersiap-siap ingin memasuki ruang bawah tanah. Wajah dilematis antara berani dan takut memancar di wajah mereka dan sikap mereka yang entah kenapa mereka seperti terpaku tanpa banyak bicara. Pintu masuk itu mengharuskan pengunjung untuk masuk satu-persatu. Tentu saja dikawal sama petugas tadi sambil bersenjatakan senter dan memakai sepatu boot untuk menghindari becek air di ruang bawah tanah. Di jaman dulu, ruang bawah tanah ini berfungsi untuk reservoir atau penampungan air jika sulit mendapatkan air bersih.

Saya pun melanjutkan keliling gedung dan naik ke lantai atas melewati tangga yang gelap. Sengaja tak dipasang lampu? He he he he tidak masuk ke gua bawah tanah, tapi disuguhi jalan gelap menuju lantai atas. Bau angker makin dekat ketika hidung saya mencium bau kemenyan yang menyerbak di sekitar pintu masuk gua bawah tanah hingga tangga menuju lantai dua.

Di lantai atas, rasa angker berubah jadi horor karena mengingat cerita serem yang tadi sempat dilontarkan oleh salah satu guide. “Di sana Pak, di jendela pojok lantai atas itu, sering ada penampakan Noni Belanda. Itu anaknya kepala Kereta Api yang bunuh diri dengan melompat dari jendela itu” “Emang kenapa bunuh diri Pak?” tanya saya sedikit penasaran.

Lalu petugas yang merangkap jadi juru kuncinya bercerita panjang lebar soal cerita misteri yang beredar terkait dengan sejarah masa lalu. Diceritakan bahwa Noni Belanda yang bunuh diri itu sesungguhnya menghindari dari upaya tentara Jepang yang ingin memerkosanya. Konon, pada jaman penjajahan Jepang, ada 20 Noni Belanda yang diperkosa dan kemudian dipenggal kepalanya. Arwah mereka masih gentayangan hingga kini. Cerita ini diperkuat dengan adanya penjara Jongkok dan penjara Berdiri di bawah tanah ukuran 1,5 meter. Penjara ini dipakai selain menyimpan jasad Noni Belanda juga ada ruang penjara untuk para penentang dari Republik atau Belanda.

Cerita horor itu memang sempat melintas di benak saya. Benar tidaknya saya juga hanya mendengar cerita saja. Biarkan setiap orang menilainya sendiri soal kebenaran. Yang jelas cerita horor itu terasa menguasai benak saya ketika mengambil foto-foto di interior gedung atau selasar di lantai dua tadi.

Hunting malam di Lawang Sewu memang eksotik luar dalam. Kecantikan gedung tua yang kini dikelola oleh PT KAI dan sempat menjadi markas Dishub, memang mempesonakan daripada datang di siang bolong. Keangkeran dan cerita horor tadi sempat membuat bulu kuduk berdiri juga. Tapi saya rasa ini dampak dari pikiran yang terisi oleh cerita-cerita angker tadi. Mungkin lain kalau kita pernah berpikir yang bukan-bukan. He he he terlanjur merinding nih…

Mendekati pukul 9 malam, saya baru keluar dari pagar besi yang tadi saya lewati untuk menjadi pintu masuk Lawang Sewu. Ada niat untuk melanjutkan foto-foto di Taman Tugu Muda di sebelahnya. Lalu lintas yang ramai mengurungkan niat saya untuk mengabadikan Tugu Muda yang dikelilingi air mancur.

Foto malam di Lawang Sewu memang asyik dan betul-betul uji nyali. Anda berniat? Perhatikan jam buka tutupnya cagar budaya Semarang ini dan jangan lupa bawa uang untuk tiket masuk dan pemandu yang siap mengantar anda untuk menjelajah alam misteri dari Lawang Sewu (Pintu Seribu) ini.

20130628-031715.jpg

20130628-031235.jpg

20130628-031251.jpg

About jejakperahu

Menjaga keseimbangan atau harmonisasi antara alam, bangunan dan spiritual merupakan obsesi saya. Obsesi ini sama dengan upaya pembinaan dan pembangunan karakter manusia yang mengutamakan keselarasan antara emosi, moral dan spiritual.

Posted on 28 June 2013, in travel and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: