Wisata Pendidikan di Panas Bumi Gunung Salak


20130628-105907.jpg

Wisata identik dengan kunjungan ke pantai, gunung, danau, sungai atau arena dengan fasilitas wahana bermain. Pokoknya yang having fun alias bikin senang. Tapi kali ini, saya berwisata ke tempang yang nambah pengetahuan dan melalui prosedur yang ketat.

Setelah menempuh 70 km dari Jakarta ke arah Selatan, dua bus pariwisata warna biru, akhirnya sampai juga di “The Salak Geothermal Field” yang berada di sekitar Gunung Salak (2211 m). Panas bumi Gunung Salak ini terbesar di Indonesia dan nomer empat di dunia setelah Cerro Prietto, Tongonan dan Bulalo/Makban.

“Prosedur Keselamatan bagi para tamu, akan saya jelaskan lebih dulu sebelum mengunjungi ke lokasi panas bumi. Setiap pekerja dilengkapi dengan peralatan perlindungan diri yang terdiri dari topi anti serangan lebah, kacamata, detektor H2S atau gas belerang, Kemeja dan celana panjang dan sepatu boot” jelas Bambang Wijanarko di hadapan 40 peserta tour yang berkumpul di dining room Chevron office.

Demi keselamatan bersama, setiap tamu dimohon mematuhi larangan berikut. Dilarang masuk tanpa ijin, dilarang merokok di tempat kerja dan lokasi bebas asap rokok, tidak buang sampah sembarangan, tidak nyalakan HP di arena terlarang, tidak menyalakan api, dilarang ilegal logging, tidak memotret tanpa seijin, tidak minum minuman beralkohol dan dilarang berburu.
“Semburan gas belerang (H2S), serangan lebah, permukaan pipa panas, bejana, kebisingan dan kabut pekat saat berkendaraan, itulah yang membahayakan dan untuk menghidarinya maka kami telah dilatih untuk itu” lanjut Bambang Wijanarko, salah satu staff Chevron yang menerima kedatangan kami.

“Ada tiga bagian bagaimana operasi panas bumi di Gunung Salak ini. Upstream, produksi uap dari lapangan panas bumi, lalu Midstream, pemisahan uap/brine dan pengiriman ke fasilitas pembangkit serta Downstream, pembangkitan dan penyaluran listrik. Operasi ini disebut dari hulu ke hilir. Atau dari panas bumi lalu uap dan air dipisahkan lewat cyclone separator, lalu uapnya diteruskan lewat cyclone scrubber, untuk menuju steam turbine yang akan menggerakkan generator listrik. Lewat transmisi, listrik dialirkan ke sutet, oleh PLN” kata Bambang.

Panas bumi Salak memiliki karakter khusus. Luasnya 9.906 ha dan didominasi dengan air panas yang memiliki temperatur dari 220 hingga 315 derajat celsius. Kedalaman pengeboran di perut bumi dari 1250m hingga 3200m. Kapasitasnya 377 MWe dengan rincian unit 1,2,3 masing-masing 60 MWe ditambah unit 4,5,6 masing-masing 65,5 Mwe. Kemampuan listrik inilah yang mensupply pelistrikan di Jawa Bali.

Setelah diberi penjelasan itu, dan kemudian santap siang, kami kemudian diantar menuju ke lokasi instalasi panas bumi yang berada di kawasan Taman Nasional “Halimun” Gunung Salak.
Sepanjang perjalanan menembus kawasan taman nasional, saya melihat pipa-pipa besar dan kecil. “Yang kecil dan berkarat itu buatan jaman Belanda. Sedankan dua pipa besar itu menyalurkan uap dan air” jelas petugas Chevron dari dalam bus. Lingkungan yang hijau ditumbuhi pohon dan katanya ada macan tutul yang suka mencari kehangatan dengan cara merebahkan diri saluran pipa, menjadi pemandangan yang sedap dinikmati.

Setibanya di kawasan instalasi panas bumi, kami tidak diperkenankan turun dari bus dan hanya boleh melihat dari dalam bus. Tampak fasilitas geothermal mulai dari Well Site, Separator, Scrubber dan Power Plant. Asap belerang warna putih menyembur dari cerobong dan arah semburannya seirama dengan tiupan angin. Jika asap H2S itu mengarah ke bus, bau seperti telur busuk, menyengat hidung hingga membuat kami pusing. “Jika ada yang tidak kuat silahkan didalam bus saja” kata petugas Chevron.

“Silahkan turun dari bus untuk menuju ke ruang pengontrolan generator pembangkit listrik. Di gedung ini kami harus kontrol setiap saat agar terjaga kestabilan produksi listriknya” kata petugas… Dan kami diperbolehkan menonton ruang kontrol dan turbin generator serta berkeliling hingga transmisi listrik yang dikelola oleh PLN.

Hampir dari satu jam kami berada di lokasi Pembangkit Litirk Tenaga Panasbumi (PLTP) Gunung Salak. Wisata pengetahuan ini menyadarkan saya bahwa konversi energi panas bumi menjadi listrik ini sangat penting bagi pelistrikan di Jawa Bali. Mendengar bahwa Indonesia baru mengelola 4% dari 40% sumber panas bumi terbesar di dunia, jadi miris rasanya.
Wisata ke lokasi panas bumi di gunung Salak memberi inspirasi dan pengetahuan banyak hal tentang pelistrikan yang dihasilkan dari panas bumi. Tapi yang menarik, menurut saya, adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk wisata sambil belajar tentang potensi panas bumi di Indonesia yang terbesar di dunia.

Tak hanya itu, kami juga belajar soal kaitannya industri panas bumi dengan pelestarian hutan termasuk flora dan faunanya. Membangun kapasitas sosial ekonomi penduduk lokal di daerah operasi panas bumi, juga menarik diketahui. “Komitmen kami adalah pengembangan masyarakat lokal untuk makin maju karena kehadiran kami sebagai mitra kerja tempatan” jelas salah satu staf Local Business Development (LBD).

About jejakperahu

Menjaga keseimbangan atau harmonisasi antara alam, bangunan dan spiritual merupakan obsesi saya. Obsesi ini sama dengan upaya pembinaan dan pembangunan karakter manusia yang mengutamakan keselarasan antara emosi, moral dan spiritual.

Posted on 28 June 2013, in Pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: