Jejak Perahu


Dermaga Perahu

Saat itu saya masih duduk di kelas tiga SD swasta di kota kelahiranku yaitu Semarang. Suatu hari saya dipanggil Bapak saya dan ditanya. “Pelajaran apa yang kamu sukai?” Saya diam sejenak sambil mengingat-ngingat pelajaran yang diberikan Ibu Guru selama ini. Lalu saya sedikit berteriak, “menggambar, Pak!” “Lho kenapa pelajaran menggambar? tanya Bapak saya penuh keheranan. Mungkin jawaban saya itu tidak sesuai dengan keinginan Bapak. Barangkali yang diharapkan muncul dari mulut saya adalah pelajaran berhitung, atau membaca. Mengapa saya menjawab menggambar? Keheranan ini membuat kami diam sejenak. Lalu, Bapak saya bertanya lagi. “lho kok menggambar yang disukai?

Dengan sikap tenang dan sedikit membanggakan diriku lalu saya menjelaskan kepada Bapakku. Tampak kakak perempuan dan laki-laki saya yang sejak tadi memperhatikan adegan saya dengan Bapak saya, berharap cemas atas apa yang akan saya jelaskan.
“Pak, menggambar itu pelajaran yang rileks. Bukan berpikir tetapi bermain imajinasi. Setelah cocok dengan hati, imajinasi itu dituangkan pada kertas. Jadilah sebuah gambar indah sesuai dengan imajinasi yang ada di benak. Begitulah pak.” Lalu Bapak saya tanya, “kamu suka menggambar apa?” Saya langsung menjawab, “Perahu, Pak!” Tanpa jeda langsung saya lanjutkan alasannya. “Perahu adalah simbol atau lambang dari hidup seorang. Perahu itu bergerak dan berjalan di atas gelombang kehidupan. Naik turun. Ke kiri dan kekanan. Karena itu, perahu cocok menjadi simbol hidup dan kehidupan manusia”

Bapak dan kakak-kakak saya nampak hanya mengangguk-angguk entah apa maksudnya. Tak lama kemudian meninggalkan saya sendirian tanpa ucap sepatah kata pun. Setelah sya menjadi dewasa dan mengalami suka dan duka serta enak tidaknya kehidupan, perahu yang saya gambarkan sejak kecil kini berubah menjadi “jejak perahu”. Perubahan ini barangkali terjadi karena jejak kehidupan lebih mudah diingat daripada mimpi.

Tapi, apakah ada yang namanya jejak perahu? Apakah hidup meninggalkan jejak? Atau justru jejak itu sebenarnya tidak bisa dilihat dan tidak bisa kembali ke jejak, maka jejak perahu susah dilihat apalagi dicari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: