Jejak Liburan (1)


Jejak liburan. Sabtu 30 Juli 2011, saya bersama group “uwis skeet” jalan-jalan ke Wisata Gedongsongo. Obyek wisata ini terletak di daerah Bandungan, Ambarawa, Jawa Tengah yang sudah cukup terkenal sehingga wisatawan yang baru pertama kali akan mengunjungi Gedongsongo tidak perlu kuatir tersesat.

“Kalau anda sudah sampai di pasar Bandungan, tanya saja kepada orang-orang di situ. Pasti akan ditunjukkan arahnya. Mau naik kendaraan umum juga ada. Sangat mudah.” kata seorang tukang parkir yang kebetulan ketemu di terminal Ambarawa, ketika saya mencari surat kabar.

Rombongan sudah bekumpul di pintu masuk Wisata Budaya Gedongsongo. “Pak, kalau rombongan bayar tiket masuknya berapa? Apa dihitung per orang atau bisa dapat diskon? “, tanya seorang ibu teman saya yang sedang berbincang dengan petugas setempat. “Ada enam puluh lima”, kata saya kepada ibu teman saya tadi. Saya melihat ibu tadi membayar untuk karcis masuk sesuai dengan jumlah yang saya katakana tadi.

Jalan masuk ke obyek wisata ini langsung mendaki. Tidak kurang dari sepuluh menit berjalan, kami sampai di Candi Gedongsong yang pertama. Candi yang konon dibangun pada tahun ke 7-9 Masehi dan bercorak candi Hindu. Saat itu, cuaca begitu cerah. Langit berwarna biru dan sedikit awan putih. Meski mentari bersinar, namun kesejukan pegunungan masih terasa di kulit. Di depan candi ini kami lalu foto bersama.

“Siapa yang mau naik kuda sampai ke Candi yang kesembilan lalu balik ke sini lagi? Murah kok, Cuma lima puluh ribu saja! ” teriak saya kepada teman-teman. Ini sengaja saya umumkan karena bapak-bapak pembawa kuda sejak tadi membuntuti kami mulai dari pintu masuk.

Ada sebagian teman saya lebih memilih jalan kaki. Katanya sambil olah raga, dan menghirup udara yang bersih yang katanya, udara bersih ini tidak ada yang menjual di kota besar. Maklum, udara kota sudah kotor karena polusi. Yang memilih naik kuda tampak begitu senang sekali dan minta difoto. “Eh, tolong dong koboi kota difoto.”, kata teman saya dengan gaya gokilnya. Lalu semua yang menunggang kuda minta difoto bareng.

Obyek wisata cagar alam budaya Candi Gedongsongo kini makin tampil mempesona. Jalan trekking setapaknya menuju ke semua candi, telah ditata sedemikian rupa sehingga pengunjung bisa melalui sederetan warung makan yang dibangun di sepanjang jalan. Jalan setapak (beda dengan jalan kuda) yang saya lalui cukup bersih dan ditata rapi di bawah rindangnya pohon pinus.

Tidak jauh dari deretan warung makan, dibangun home stay yang bisa menampung rombongan sekaligus ada fasilitas ruang pertemuan. Di tempat ini pengunjung bisa menginap layaknya sebuah hotel. Arsitektur home stay, menurut saya, cukup unik dan selaras dengan suasana pegunungan. Saran saya kalau mau menginap di home stay ini lebih baik rombongan daripada pribadi. Selain lebih murah, juga cocok untuk acara bersifat “rame-rame” karena suasana di situ cukup sunyi di alam hutan pegunungan. “Kami pun menyediakan camping ground untuk berkemah. Tidak perlu susah-susah membawa tenda. Kami punya tenda ukuran besar kecil untuk disewakan” kata petugas home stay sebelum kami melanjutkan perjalanan ke atas.

Setelah melewati home stay, candi berikutnya sudah kelihatan. Demikian juga candi-candi berikutnya. Saya dan beberapa teman berhenti sejenak di tempat permandian air panas. Di situ tersedia kolam air panas meski tidak terlalu besar. “Kalau mandi di sini, segala penyakit kulit bisa disembuhkan. Airnya mengandung belerang yang cocok untuk meremajakan kulit” kata petugas di situ dengan nada promosi.

Candi ke Sembilan dan ke delapan sudah tampak dekat dari tempat permandian air panas. Saya lihat ada seorang anak melambai-lambaikan tangannya dari atas kuda yang ditungganginya di samping candi yang ke sembilan. Mungkin dia sangat bangga karena sudah “finish“ di candi yang ke Sembilan. Kalau anda berwisata di tempat ini, saya sarankan supaya berjalan atau naik kuda ke candi yang ke Sembilan. Bahkan anda boleh bangga karena anda masih kuat berjalan di jalan yang berkontur mendaki dan tidak sedkit keringat keluar meski udara sejuk. Perjalanan yang sangat eksotik dan menyenangkan.

Daya tarik wisata di Candisongo ini tidak hanya alam pegunungan dan candinya saja. “Mau nyoba makan sate kelinci? Tuh, banyak dijual di warung-warung makan. “ kata saya sedikit menggoda teman di samping saya. Dia cuma tersenyum ketika saya goda tadi. Sate kelinci termasuk sajian kuliner yang menjadi daya tarik wisata di sini. Tidak hanya itu, ketika anda melewati jalan keluar menuju pintu masuk tadi, banyak souvenir-souvenir yang ditandai dengan tulisan “Candi Gedongsong” dijual di lapak-lapak. Yah, buat kenang-kenangan sebagai bukti sudah pernah sampai di tempat wisata ini.

“Ada suara gamelan di sana. Kayaknya ada pertunjukan seni di sini. Lihat para penarinya dengan pakaian tarinya kuning-gemerlap sudah siap menari diiringi tabuhan gamelan.” kata teman saya sambil menunjuk ke arah kerumunan orang di dekat pintu masuk tadi. Memang betul ada tari Jathilan yang siap disajikan di hadapan seribu pengunjung yang datang ke lokasi wisata hari Sabtu ini. Sajian budaya setempat ini, menurut saya, melengkapi daya tarik wisata Gedongsongo. Saya dan rombongan merasa puas dan sennag berwisata ria di tempat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: