Freeport Rusuh, Ribuan Siswa Papua Terancam DO


Tulisan ini telah dimuat di Kompasiana.com

Mengikuti Ekstra Kurikuler

Hati Petra Sunne dan Kevin Letsoin, berkorbar-kobar saat menerima hadiah Laptop Dell sebagai penghargaan atas prestasi belajarnya selama di SMA. Betapa tidak. Sebelumnya mereka tidak tahu kalau ketekunan belajarnya selama ini, membuat mereka berhak mendapatkan hadiah laptop anyar. Hadiah Laptop itu memang diberikan kepada siswa dan mahasiswa Papua yang berpretasi untuk memotivasi agar mereka lebih giat belajar.

“Saya merasa bersyukur dengan hadiah Laptop ini. Dengan laptop ini, cita-cita saya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, sedikit banyak terbantu. Terimakasih PT Freeport lewat LPMAK yang telah membiayai studi kami selama ini dan terimakasih atas hadiah laptopnya” kata Petra Sunne, gadis Papua yang berasal dari Kabupaten Mimika Timika.

Itulah sepenggal kisah dari siswa-siswi Papua yang mendapat bea siswa dari PT. Freeport Indonesia melalui LPMAK (Lembaga Pengabdian Masyarakat Amungme dan Kamoro). Bersama ribuan teman-temannya yang telah lulus di tingkat SMA, mereka berhak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atas biaya Freeport melalui LPMAK.

Namun, asa kedua siswa Papua berpretasi ini dan ribuan teman-teman lainnya yang saat ini mendapat bea siswa dari Freeport, bisa jadi pupus tidak menentu dikarenakan di Tembagapura (pusat pertambangan emas) dan Mimika Timika sedang terjadi pergolakan dari para karyawannya. Tuntutan kenaikan kesejahteraan bagi karyawan lokal Freeport, telah memicu pergolakan itu hingga sekarang . Tidak sedikit yang terluka bahkan ada satu pengunjuk rasa yang tewas kena tembakan.

Sudah sebulan gelombang unjuk rasa ini berlangsung. Apabila tidak kunjung diselesaikan maka dampak sosialnya terutama dalam pendidikan akan mempengaruhi penerimaan bea siswa anak-anak Papua dan juga semangat belajarnya. Upaya pemberdayaan anak-anak Papua yang sudah dimulai sejak 7 tahun lalu, akan terancam kandas di tengah jalan. Bayangkan saja, ribuan siswa-siswi yang sedang belajar di berbagai tempat di Indonesia akan drop out (DO) atau berhenti di tengah jalan bila pergolakan itu tak kunjung henti.

“Untuk program matrikulasi dan studi, kami berkerjasama dengan 7 (tujuh) Perguruan Tinggi terakreditasi seperti : Universitas Negeri Papua (Unipa) Manokwari, Universitas Santa Dharma (USD) Yogyakarta, Universitas Widya Mandala (Unika WM) Surabaya, Universitas Klabat (Unklab) Manado, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Uniersitas Katolik Soegijapranata (UKS) Semarang, dan Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) Bandung . Sedangkan untuk jenjang SLTA bekerjasama dengan 4 (empat) SMU yaitu : SMA St. Nikolaus Lokon dan SMU Advent Tompaso Di Manado, SMU St. Michael dan SMU Don Bosco di Semarang sekaligus melibatkan Yayasan Binterbusih Semarang untuk urusan asrama.” demikian kata Bapak Kemong, Sekretaris Eksekutif LPMAK.

Tidak hanya itu, anak-anak dari para karyawan Freeport yang bertempat tinggal di kota tengah hutan, Kuala Kencana pun akan mengalami nasib yang sama. “Bagaimana mau bekerja kalau suasana tempat kerjanya tidak kondusif,” kata salah satu staff PT Freeport yang menyekolahkan anaknya di salah satu SMA Boarding School di Tomohon, dengan nada cemas.

Sepengetahuan saya LPMAK tidak hanya memberi bea siswa kepada ribuan anak papua untuk sekolah. Tetapi juga membangun persekolahan dan mendukung sarana prasarana sekolah-sekolah di pedalaman. Saya pernah berkunjung ke SD Pejunan, di Wonosari, Kabupaten Mimika. SD ini dilengkapi dengan asrama putra dan asrama putri yang diperuntukan bagi anak-anak yang datang dari pedalaman. Mereka ditampung di asrama untuk sekolah dan pembinaan karakternya.

Yang paling mengesan saat berkunjung ke asrama itu adalah kerapihan kamar tidur dan kamar belajarnya. Tempat tidur, rak sepatu, meja belajarnya rapih ditata sedemikian rupa sehingga enak dipandang. Saya juga terkesan ternyata anak-anak papua itu ramah-ramah dan saat kami datang mereka menyapa dengan sopannya.

Lantas saya bertanya kepada salah satu pamong putra yang sekaligus juga guru SD mereka, soal kerapihan dan keramahan tadi. Pamong itu menjawab, bahwa sejak dia datang dari pedalaman dan menjadi siswa di tempat ini, setiap hari kami ajarkan tentang bagaimana hidup dan bersosialisasi di lingkungan asrama bersama teman-temannya dari pedalaman lainnya. Meski demikian, kata bapak pamong itu, ada yang minta pulang ke rumahnya di pedalaman karena rindu sama Bapak dan Mamanya.

“Ada sekitar 50 guru kontrak yang didatangkan dari luar daerah selain untuk mengajar juga meningkatkan kualitas guru-guru setempat” lanjut Bapak Kemong menjelaskan bahwa untuk guru-guru kontrak LPMAK berkerjasama dengan Yayasan Pendidikan yang dikelola oleh-oleh Gereja-gereja setempat dan Diknas Kabupaten Mimika.

Akankah para penerima bea siswa dari PT Freeport melalui LPMAK, akan terlantar dan mengalami drop out dari sekolah mereka, akibat kerusuhan yang sekarang ini sedang membara bergolak di pusat pertambangan emas dan Kabupaten Mimika? Semoga saja tidak. Anak-anak Papua saat ini sangat membutuhkan pendidikan agar mereka bisa menjadi orang pandai dan setelah lulus menyelesaikan studinya, mereka bisa orang Papua yang bisa membangun tanah sendiri sebaik-baiknya. “Lima belas tahun ke depan, diharapkan akan ada kemajuan pembangunan baik fisik maupun sumber daya manusianya.” kata perwakilan Freeport dalam rapat evaluasi pendidikan antara LMPAK dengan Lembaga-lembaga Mitra Pendidikan yang diadakan setahun sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: