Kepergok, Beli Jawaban Ujian Nasional


Susahnya Mengerjakan Spal-soal Ujian (dok.pri)

Siapa yang tidak bangga kalau tahun 2012 ini, ada yang bilang, “Selamat ya! Sekolah anda selalu menjaga tradisi lulus Ujian Nasional 100%”. Saya yakin yang bangga bukan hanya Yayasan atau tenaga pendidik dan tenaga kependidikan saja, melainkan juga orang tua, masyarakat sekitar. Bahkan, Diknas Kota/Kabupaten hingga Diknas Propinsi ikut larut dalam euforia itu.

Biasanya pengumuman hasil ujian nasional menjadi Headline (HL) surat kabar lokal dan menjadi trending topik. Sejauh pengamatan saya pada tahun 2011, media lokal selalu menurunkan daftar peringat Sekolah dengan nilai kelulusan terbaik dari jurusan IPA dan/atau IPS. Setelah itu, koran juga menurunkan hasil wawancaranya dengan siswa yang nilai kelulusan tertinggi baik dari IPA maupun dari IPS.

Pernah terjadi, ada sekolah dari pelosok (bukan dari pusat kota/kabupaten) menduduki rangking nilai kelulusan tertinggi untuk bidang studi IPS. Sementara sekolah-sekolah yang diunggulkan dan difavoritkan ternyata tidak masuk peringkat lima besar. Ironis memang. Namun itulah salah satu fakta dari sistem Ujian Nasional kita.

Bagi sebagian sekolah, liputan media lokal tentang 10 besar SMA dengan nilai kelulusan tertinggi ikut menaikan pamor sekolah yang bersangkutan sekaligus “gengsi” sekolah aman trjaga. Karena itu, mengejar supaya siswa-siswi lulus 100%, dan mendapatkan nilai tertinggi di bidang studi IPS dan atau IPA, serta ada salah satu siswa atau siswinya memperoleh nilai kelulusan sempurna, seolah-olah menjadi target utama setiap sekolah. Pasang target memang bisa membikin emosi Kepala Sekolah dan guru-guru jika peserta didiknya, setelah try out (uji coba) jelang Ujian Nasional, hasilnya jelek.

Suasana panas seperti itu sudah terasa saat ini sebelum pelaksanaan Ujian Nasional pada bulan depan ini. Tak hanya gurunya tetapi juga siswanya juga ikutan stress. Mereka stress karena ada anggapan yang mengatakan “Keberhasilan belajarmu selama tiga tahun di SMA, hanya ditentukan dalam waktu tiga hari (saat Ujian Nasional)”. Rumor ini menambah siswa makin stress.

Bagaimana tidak stres? Orang tua sudah mengeluarkan biaya per bulan rata-rata Rp. 4.000.000,- ini sudah all in Asrama dan Sekolah (termasuk semua kegiatan atas nama sekolah). Jasi, selama tiga tahun, orang tua sudah mengeluarkan biaya sebesar 36 kali 4 juta rupiah. Total Rp. 144.000.000,- ditambah DP3-nya sejumlah Rp. 20.000.000,- Belum uang jajan atau uang transportasi per bulannya, jika ada acara pribadi atau bersama dengan teman-teman. “Wouw, betapa mahal biaya sekolahmu Nak…!!”.

Perhitungan itu hanyalah contoh untuk mereka yang bersekolah di SMA Boarding School. Apakah siswa yang sekolah di Negri atau Swasta yang tidak berasrama lebih murah? Saya merasa tidak yakin akan lebih murah. Soalnya akumulasi biaya-biaya seperti makan, transportasi, kegiatan, komunikasi, studi tour, jajan dsb, jatuhnya hampir sama.

“Saya takut dan malu kalau saya tidak lulus. Sia-sialah orang tua dan saudara-saudara saya yang ikut adil dalam pendidikan saya”, kata Enyos, penerima bea siswa dari Papua. Apa yang dirasakan Enyos, saya yakin juga dirasakan oleh teman-temannya, apalagi ada anak pejabat, polisi dan wakil rakyat. Rasa takut tidak lulus makin bertambah hebat ketika pihak sekolah dalam apel paginya selalu mengingatkan bahwa sejak sekolah ini berdiri hingga tahun 2011, selalu menjaga tradisi lulus 100%. “Belajar baik-baik ya. Jangan malas dan tekun selalu belajar. Kurangi main-main…” demikian Kepala Sekolah mewanti-wanti para siswa kelas XII.

“Jadi mau beli nggak? Kalau jadi aku titip ya. Berapa sih harganya” tanya salah satu siswa kepada temannya. Yang ditanya cuma menggangguk saja sambil memperlihatkan ke lima jarinya. Ironis memang. Di tengah kegalaun menghadapi Ujian Nasional, para siswa mendengar rumor bahwa kunci jawaban semua bidang studi yang diujikan dalam Ujian Nasional, bisa dibeli dengan membayar per bidang studi lima ratus ribu rupiah.

Entah dari mana rumor itu sampai di telinga para siswa hingga terpengaruh untuk jalan pintas dan mengorbankan kepercayaan dirinya untuk beli kunci jawaban itu. Lepas dari itu, kelihaian oknum penjual kunci jawaban memang hebat. Buktinya setiap kali ada Ujian Nasional, tersiar kabar para siswa beli kunci jawaban, meski kemudian salah semua sehingga ada satu Sekolah tidak lulus 100%.

Modus operandi oknum penjual kunci jawaban terbilang rapih dan jeli. Siswa-siswi yang tidak terlalu pinter di kelas dan nilai mapelnya pas-pasan, menjadi sasaran empuk. Setelah ada kepastian siapa dan berapa yang mau beli (biasa sampai jutaan rupiah), maka diatur kapan dan di mana “pertemuan”nya. Tempat ideal pertemuan biasanya tidak di tempat sepi tetapi di lokasi yang disukai anak muda seperti mall atau restoran.

Terjadilah transanksi itu. Namun tanpa diduga sebelumnya polisi sudah mengendus pratek jual beli kunci jawaban Ujian Nasional. Singkat cerita, para siswa akhirnya dijebloskan dalam penjara sambil menunggu keputusan selanjutnya. Apakah cerita ini mengada-ada? Saya jawab tidak. Saya dapat cerita ini dari para alumni (siswa yang sudah lulus). Mereka bangga menceritakan soal ini karena dianggap sebagai “kenangan masa indah di SMA”.

Tapi, tidak semua siswa menggunakan kunci jawaban yang telah dibeli. Pengakuan siswa yang pinter mengatakan bahwa tidak seratus persen betul kunci jawaban itu. Maka, sikap kritis untuk menjawab soal harus ada. Oh ya, jika satu siswa sudah mendapatkan kunci jawaban, maka secara berjamaah mereka sebarkan ke teman-temannya. Yang pinter kadang tidak percaya tetapi kadang terpengaruh juga dalam prateknya.

Cerita ini saya olah dari berbagai cerita dari siswa-siswi yang sudah lulus dan fenomen ini seolah-olah sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun bahwa jual beli kunci jawaban Ujian Nasional sungguh ada. Siapakah oknum di balik ini semua. Saya percaya polisi tidak hanya mengawal naskah ujian dan kunci jawabannya tetapi akan mem “back-up” setiap oknum yang berusaha menjual kunci jawaban kepada para pserta didik. Karena sebentar lagi mereka akan melaksanakan Ujian Nasional, saya berharap semua pihak terutama pihak Yayasan dan Sekolah serius memonitor soal “jual-beli” kunci jawaban itu.

Betapa malunya kalau siswa sekolah anda tidak lulus 100%. Apa kata masyarakat nanti? Bisa jadi, dii tahuan pendiidkan (TP) 2012/2013 ini, tak ada siswa yang mau mendaftar di sekolah anda yang terbilang megah dan unggulan . Inikah wajah buram dunia pendidikan di Indonesia?

Tulisan ini di muat di Kompasiana HL | 28 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: